Aku kembali melihatmu dalam hujan deras di ujung November.
Rintiknya mengguyur bumi, menyisakan jejak kenangan,
merekam segalanya dalam ingatan yang enggan pudar.
Aku kembali berdiri di bawah hujan deras,
angin menusuk, air meresap hingga ke jiwa.
Langkahku menuju bayanganmu terasa berat,
seakan ada tangan-tangan tak kasat mata yang menahanku.
Aku kembali menatap matamu dalam derasnya hujan.
Mata itu—dalam, kosong, tak bernyawa.
Luka yang lama kembali menganga,
menyadarkanku bahwa kau tak lagi ada di dunia ini.
_ailama

Komentar
Posting Komentar