Kita dua asa,
Saling terpaut pada benang takdir yang tak pernah kusut.
Dua insan yang saling menyapa, bercanda, dan tertawa;
Semuanya terasa nyata. Di sampingku, kamu selalu.
Jangan sampai lepas genggamannya ya, Kasihku.
Padang rasa yang selalu berlimpah,
Kita—jangan menyerah pada semesta.
Apakah seharusnya rasa ini tidak pernah ada?
Di dalam sana, apakah tidak ada iman?
Tak bisa tunduk pada kegelisahan,
Kita berjalan tanpa tahu aturan.
Kita penuh kebohongan pada Tuhan yang menciptakan.
Lalu, bagaimana dengan cinta?
Apakah kita ditakdirkan tidak bersama?
_ailama

Komentar
Posting Komentar